Rangkaian program yang direncanakan meliputi edukasi mengenai ulkus diabetik, pengenalan alat dan bahan, pengolahan daun pisang, demonstrasi dan praktik pembuatan salep percontohan, pengemasan, pelabelan, evaluasi, serta pendampingan mitra. Penjelasan tahapan tersebut penting agar masyarakat memahami arah kegiatan dan mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam pelatihan berikutnya.
Sosialisasi dilaksanakan secara interaktif. Kader dan masyarakat diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan tanggapan, serta mendiskusikan kebutuhan yang berkaitan dengan pelaksanaan program. Partisipasi tersebut menjadi modal awal dalam membangun program yang tidak hanya berasal dari gagasan perguruan tinggi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan mitra.
Mengembangkan Potensi Daun Pisang
Daun pisang merupakan bahan alam yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat. Selama ini, pemanfaatannya lebih banyak terbatas untuk kebutuhan rumah tangga. Melalui GEMA PISANG, masyarakat akan diperkenalkan pada cara mengolah potensi lokal tersebut secara lebih terarah.
Pada tahapan selanjutnya, kader akan mendapatkan pelatihan mengenai pemilihan dan penyiapan bahan, kebersihan alat, proses pengolahan, pembuatan salep percontohan, pengemasan, dan pelabelan. Kader juga akan memperoleh pengenalan dasar mengenai pembagian tugas kelompok, pencatatan kebutuhan bahan, dan penghitungan biaya produksi.
Meskipun demikian, pengembangan produk berbahan alam tetap harus memperhatikan keamanan dan tidak boleh disertai klaim manfaat yang berlebihan. Salep yang akan dibuat dalam program ini merupakan produk edukasi dan percontohan. Produk tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan, perawatan luka standar, atau terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Masyarakat juga akan diberikan pemahaman mengenai tanda bahaya ulkus diabetik. Luka yang semakin dalam, bernanah, berbau, menghitam, mengalami perdarahan, atau disertai demam harus segera diperiksa di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dari Sosialisasi Menuju Pemberdayaan
Kegiatan sosialisasi merupakan tahap awal dari proses pemberdayaan yang lebih panjang. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari terbentuknya produk percontohan, tetapi juga dari peningkatan pengetahuan, keterampilan, partisipasi, dan kemampuan mitra untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.
Tahapan berikutnya akan difokuskan pada edukasi kesehatan, demonstrasi, praktik langsung, pengemasan produk, dan pendampingan kelompok. Melalui proses tersebut, kader Posyandu diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi penggerak yang mampu menyampaikan informasi kesehatan dan mengembangkan kegiatan produktif berbasis potensi lokal.
Program GEMA PISANG menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pisang yang mudah ditemukan dapat menjadi media pembelajaran untuk mempertemukan edukasi kesehatan, keterampilan pengolahan bahan alam, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Hibah BIMA dan Semangat Kampus Berdampak
Pelaksanaan program ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi melalui dukungan Hibah BIMA Tahun 2026. Program Hibah BIMA memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan dalam membantu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Keterlibatan perguruan tinggi, kader Posyandu, masyarakat, dan pemangku kepentingan setempat diharapkan dapat menciptakan kolaborasi yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi tersebut, kegiatan pengabdian tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat yang memberikan manfaat dalam bidang kesehatan dan kemandirian.
Sosialisasi yang telah dilakukan menjadi langkah pertama perjalanan GEMA PISANG. Masih terdapat tahapan edukasi, pelatihan, produksi, evaluasi, dan pendampingan yang akan dilaksanakan. Namun, kesiapan dan partisipasi awal masyarakat memberikan harapan bahwa program ini dapat tumbuh menjadi kegiatan yang bermanfaat dan berkelanjutan.
Melalui GEMA PISANG, Hibah BIMA hadir bukan sekadar sebagai dukungan terhadap kegiatan perguruan tinggi, melainkan sebagai penggerak kolaborasi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, terampil, dan mandiri.
Penulis:
La Ode Muhammad Anwar, M.Pharm.Sci.
Universitas Medika Suherman